Pages

Friday, September 3, 2010

BIOTEKNOLOGI MIKROBA UNTUK PERTANIAN ORGANIK

Alasan kesihatan dan kelestarian alam menjadikan pertanian organik sebagai salah satu alternatif pertanian moden. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari segala asupan yang berbau sintetik, baik berupa pupuk sintetik, herbisida, maupun pestisida sintetik. Namun, petani sering mengeluhkan hasil produksi pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati non sintetik.Tanah adalah habitat yang sangat kaya akan keragaman mikroorganisme seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus.

Tanah-tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba-mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian. Mikroba tanah antara lain berperan dalam mendegradasi limbah-limbah organik pertanian, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen dari udara, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan tanaman, biokontrol patogen tanaman, membantu penyerapan unsur hara tanaman, dan membentuk simbiosis menguntungan. Bioteknologi berbasis mikroba tanah dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tanah tersebut.

Teknologi Kompos Bioaktif
Salah satu masalah mendasar yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik tanah dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pupuk hijau atau pupuk kandang. Pupuk hijau dan pupuk kandang sebenarnya adalah limbah-limbah organik yang telah mengalami penghacuran sehingga menjadi lebih tersedia bagi tanaman. Limbah organik seperti sampah dedaunan, seresah, kotoran-kotoran binatang ternak tidak bisa langsung diberikan ke tanaman. Limbah organik harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur-unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Secara alami proses pengkomposan ini memakan waktu yang sangat lama, berkisar antara enam bulan hingga setahun sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman.Proses penghancuran limbah organik dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang memiliki kemampuan tinggi.

Penggunaan mikroba penghancur ini dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya: SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba, Stardec, dan lain-lain.Dr. Didiek H Goenadi, Direktur Eksekutif Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, mendefinisikan kompos bioaktif sebagai kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. SuperDec dan OrgaDec, produk biodekomposer yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), dikembangkan berdasarkan filosofi tersebut. Mikroba biodekomposer unggul yang digunakan adalah Trichoderman pseudokoningii, Cytopaga sp, dan fungi pelapuk putih. Mikroba tersebut mampu mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar 2-3 minggu. Mikroba tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan untuk mengendalikan mikroba-mikroba patogen penyebab penyakit tanaman.Keuntungan penggunaan kompos bioaktif untuk pertanian organik selain mempercepat waktu pengomposan dan menyediakan kompos yang berkualitas tinggi, juga berperan sebagai agensia hayati untuk mengendalikan penyakit tanaman, terutama penyakit yang menyerang dari dalam tanah. Kekawatiran para petani organik akan tanamannya yang mudah diserang penyakit dapat di atasi dengan menggunakan kompos bioaktif.

Biofertilizer
Petani organik sangat alergi dengan pupuk-pupuk kimia atau pupuk sintetik lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, petani organik umumnya mengandalkan kompos sebagai sumber utama nutrisi tanaman. Sayangnya kandungan hara kompos rendah. Kompos yang sudah matang kandungan haranya kurang lebih : 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K. Dengan kata lain seratus kilogram kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl. Misalnya untuk memupuk padi yang kebutuhan haranya kg Urea/ha, kg SP 36/ha dan kg KCl/ha, maka kompos yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak ton kompos/ha. Jumlah kompos yang demikian besar memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak dan berimplikasi pula pada biaya produksi.Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupaun penyerapan unsur hara bagi tanaman.

Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba tanah. Hara N sebenarnya tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung diserap oleh tanaman. Tidak ada satupun tanaman yang dapat menyerap N dari udara. N harus difiksasi/ditambat oleh mikroba tanah dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dengan tanaman dan ada pula yang hidup bebas di sekitar perakaran tanaman. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp. Rhizobium sp hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara tanaman adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah-tanah yang lama diberi pupuk superfosfat (TSP/SP 36) umumnya kandungan P-nya cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah yang sukar larut. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat tanah dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Zerowilia lipolitika, Pseudomonas sp, … ,………… Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza.

Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Ektomikoriza seringkali ditemukan pada tanaman-tanaman keras/berkayu, sedangkan endomikoriza ditemukan pada banyak tanaman, baik tanaman berkayu atau bukan. Mikoriza hidup bersimbiosis pada akar tanaman. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering ditemukan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.Beberapa mikroba tanah juga mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.Mikroba-mikroba tanah yang bermanfaat untuk melarutkan unsur hara, membantu penyerapan unsur hara, maupun merangsang pertumbuhan tanaman diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer untuk pertanian organik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang dikembangkan oleh BPBPI antara lain: Emas, Rhiphosant, Kamizae, dan Simbionriza.

Agen Biokontrol
Hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu kendala serius dalam budidaya pertanian organik. Jenis-jenis tanaman yang terbiasa dilindungi oleh pestisida kimia seperti jenis-jenis hibrida, umumnya sangat rentah terhadap serangan hama dan penyakit ketika dibudidayakan dengan sistim organik. Alam sebenarnya telah menyediakan mekanisme perlindungan alami. Di alam terdapat mikroba-mikroba dapat mengendalikan organisme patogen tersebut. Mikroba atau organisme patogen akan menyerang tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara organisme patogen dengan mikroba pengendalinya. Di sini jumlah organisme patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat menyeimbangakan populasi kedua jenis organisme ini, maka hama dan penyakit tanaman dapat dihindari.Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana, Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae. Mikroba-mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga yang menjadi hama tanaman. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp. Trichoderma sp mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), atau Phytoptora sp.

Aplikasi pada Pertanian Organik
Produk-produk bioteknologi mikroba hampir seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami. Produk-produk ini dapat memenuhi kebutuhan petani organik. Kebutuhan akan bahan organik tanah dan hara tanaman dapat dipenuhi dengan kompos bioaktif dan aktivator pengomposan. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat mensuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia. Serangan hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan dengan memanfaatkan biokotrol.Selama ini petani Indonesia yang menerapkan sistem pertanian organik hanya mengandalkan kompos dan cenderung membiarkan serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan tersedianya bioteknologi berbasis mikroba, petani organik tidak perlu kawatir dengan masalah ketersediaan bahan organik, unsur hara, dan serangan hama dan penyakit tanaman.

http://awhik.blogspot.com/2008/03/artikel-pertanian-bioteknologi-mikroba.html

Roselle

Roselle bunga yang enak dimakan

Hibiscus rosa sinensis ialah bunga raya yang menjadi kebanggaan rakyat Malaysia sebagai bunga kebangsaan negara. Tahukah anda ada satu lagi spesies bunga raya yang boleh kita ketengahkan kerana kegunaannya sebagai makanan. Spesies bunga raya yang dimaksudkan ialah Hibiscus sabdariffa L. atau lebih dikenali dengan nama roselle.

Tumbuhan roselle dikatakan berasal dari India tetapi ada juga yang mengatakan ia berasal dari Afrika Barat. Tumbuhan ini mula diperkenalkan di Malaysia sejak lebih tiga kurun yang lampau. Beberapa jenis roselle yang tumbuh secara liar di beberapa negeri dikenali dengan berbagai-bagai nama seperti asam paya, asam kumbang dan asam susur. Di West Indies ia dinamakan Jamaican Sorrel. Pokok roselle boleh tumbuh daripada biji benih atau keratan dan ketinggiannya boleh mencapai sehingga 3–5 m serta mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun.

Bunga roselle berwarna cerah, salut bunga atau kaliksnya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya biasa. Bahagian bunga roselle yang boleh diproses menjadi makanan ialah salut bunganya (kaliks) yang mempunyai rasa yang amat masam. Salut bunga ini boleh diproses menjadi pelbagai jenis hasilan makanan seperti minuman, halwa, jeli, sos, jeruk dan serbuk atau helaian minuman roselle. Tahukah anda daun dan batang muda roselle boleh dimakan sebagai ulam atau salad dan boleh juga digunakan sebagai perisa di dalam kuah kari? Sementara itu di Afrika, biji roselle dimakan kerana dikatakan mengandungi minyak tertentu. Di Sudan, roselle diproses menjadi minuman tradisional yang dinamakan Karkadeh dan merupakan minuman kebangsaan orang Sudan.

Salut bunga ini boleh diproses menjadi pelbagai jenis hasilan seperti minuman, halwa, jeli, sos, jeruk dan serbuk atau helaian minuman roselle

Potensi Roselle
Kajian awal MARDI pada tahun tujuh puluhan lebih menekankan pada penghasilan pewarna asli daripada roselle. Potensi roselle dalam menghasilkan pewarna merah begitu terserlah kerana dengan hanya memegang bunga ini, warna merah akan melekat di tangan. Kemudian pada tahun lapan puluhan penyelidikan berkembang kepada kajian penggunaan roselle dalam pengeluaran sirap minuman. Berdasarkan minat serta perhatian yang diberikan kepada industri makanan sejak awal tahun sembilan puluhan, roselle dijangka mempunyai potensi untuk dimajukan dalam mempelbagaikan penghasilan makanan di negara ini.
Tahukah anda daun dan batang muda roselle boleh dimakan sebagai ulam atau salad dan boleh juga digunakan sebagai perisa di dalam kuah kari?

HASILAN ROSELLE
Ekstrak roselle dan khasiatnya
Ekstrak roselle diperoleh dengan melakukan proses pengekstrakan terhadap salut bunga segar atau salut bunga kering yang direndam di dalam air panas pada suhu >60°C selama 30 minit hingga semalaman. Seterusnya ekstrak bewarna merah gelap yang amat masam diperoleh melalui proses penurasan. Daripada ekstrak ini berbagai-bagai hasilan roselle dapat dikeluarkan. Ekstrak roselle juga boleh dijadikan serbuk melalui proses pengeringan sembur. Ekstrak roselle didapati kaya dengan pigmen anthosianin, asid askorbik dan asid buah yang lain. Hasil analisis mendapati kandungan pewarna anthosianin sebanyak 1.48 g/100 g salut bunga kering. Sementara itu sirap roselle mempunyai kandungan vitamin yang agak tinggi iaitu 200 mg/100 ml.

Minuman roselle
Minuman jus atau kordial roselle boleh disediakan dengan mencampurkan ekstrak roselle dengan gula dan bahan tambah yang lain seperti bahan awet. Campuran ini dibancuh menggunakan mesin pembancuh.

Halwa roselle
Selama ini yang kita tahu hanyalah halwa kundur, halwa betik dan pelbagai jenis halwa daripada buah-buahan tempatan. Siapa sangka bunga roselle boleh diproses menjadi halwa. Salut bunga roselle hasil penurasan ekstraknya, dimasak dalam larutan gula sehingga mencapai kepekatan yang dikehendaki. Seterusnya salut bunga dikeringkan, maka terhasillah halwa roselle.

Serbuk roselle
Serbuk roselle atau teh berperisa roselle boleh dihasilkan daripada salut bunga segar yang dikeringkan pada suhu 65–80°C selama 6–8 jam atau sehingga kandungan lembapan 2%. Seterusnya salut bunga yang telah kering dikisar, ditambah bahan anti ketul dan dibungkus. Untuk teh berperisa roselle, salut bunga kering yang telah dikisar dan ditambah bahan anti ketul dicampur bersama daun teh sebelum dibungkus.

Jem dan jeli roselle
Salut bunga segar atau salut bunga terpakai selepas proses pengekstrakan, dikisar dan hasilnya disebut pulpa (pulp). Untuk membuat jem roselle, pulpa ini dimasak bersama gula, pektin dan air sehingga mencapai kepekatan 65 °Brix. Jeli roselle juga diproses dengan kaedah yang sama tetapi menggunakan ekstraknya.

Industri roselle di Malaysia
Sehingga kini terdapat beberapa kilang memproses roselle di Malaysia. Antara syarikat yang mendapat khidmat nasihat dan perundingan MARDI ialah Gulf and Pacific Industries Sdn. Bhd. di Kuching, Sarawak. Syarikat ini mengeluarkan hasilan kordial, minuman berkarbonat, jem, halwa dan pati roselle. Bagi memastikan bekalan bahan mentah yang mencukupi untuk industri yang kian berkembang ini, penanaman roselle telah diusahakan oleh Gulf and Pacific Estates Sdn. Bhd. di tanah seluas hampir 2 499 ekar.

Di Terengganu perbincangan dan perundingan dari aspek pembangunan hasilan roselle telah diadakan dengan Malaysia Roselle Industries Sdn. Bhd., Kuala Terengganu. Sementara itu memorandum persefahaman telah ditandatangani oleh MARDI dengan Aquasis (M) Sdn. Bhd. Kuantan, Pahang dalam usaha penubuhan kilang serta pembangunan hasilan roselle.
Potensi di masa hadapan

Hasilan roselle masih baru di kalangan rakyat Malaysia apatah lagi bagi negara lain. Penerimaannya setakat ini masih di peringkat percubaan dan pengguna membelinya dengan tujuan ingin mencuba hasilan yang baru. Sama ada mereka akan terus membeli dan menjadikannya sebagai satu makanan atau minuman sehari-hari bergantung pada banyak perkara.

Pertama, adakah rupa, rasa dan bau hasilan tersebut memenuhi citarasa pengguna? Kedua, apakah keunikan atau kelebihan hasilan ini jika dibandingkan dengan hasilan yang sedia ada? Pengguna hari ini terdedah kepada pelbagai maklumat dan mereka amat peka pada sesuatu bahan makanan atau minuman yang dapat meningkatkan atau menjejaskan kesihatan mereka. Mereka juga mahukan nilai terhadap setiap sen yang dibelanjakan.

Oleh itu, pengusaha harus bijak dalam memenuhi kehendak pengguna dengan menonjolkan kelebihan sesuatu hasilan baru dan pada masa yang sama dapat menjamin kualiti hasilan dan keselamatan terhadap pengguna. Faktor ketiga ialah bagaimana promosi hasilan itu dibuat. Promosi secara aktif dan berterusan perlu dibuat bagi memperkenalkan roselle kepada orang ramai kerana setelah beberapa lama pengguna mungkin lupa tentang kewujudan sesuatu hasilan baru apabila iklan hasilan berkenaan tidak lagi kelihatan di media massa.

Tumbuhan roselle mudah tumbuh di negara kita yang beriklim tropika. Seperti pokok bunga raya lain, sehingga kini didapati pokok roselle sukar dijangkiti penyakit dan penjagaannya di ladang tidak sukar. Teknologi memproses pelbagai hasilan roselle juga telah disediakan oleh MARDI untuk dipindahkan kepada usahawan yang berminat. Dalam usaha kerajaan untuk meningkatkan pengeluaran hasil pertanian, maka adalah tepat pada masanya para pengusaha mengambil peluang ini.

http://harizamrry.com/

Terubuk Masin Sarawak

Rasiah Terubuk
Permintaan tinggi punca terubuk Sarawak diganti spesies import India, Myanmar
SEBUT saja terubuk Sarawak, pasti ramai yang akan terliur dengan keenakan isinya yang lemak dan manis, apa lagi kalau dapat menikmati ikan terubuk bertelur.

Malah tidak sah rasanya kunjungan pelawat ke Bumi Kenyalang, kalau tidak membawa pulang ‘ole-ole’ ikan terubuk Sarawak, terutama terubuk masin dan telur terubuk masin, yang ada dengan banyaknya di Pasar Tamu Satok di Kuching. Terubuk ini juga laris ketika Ramadan yang menjadi juadah wajib penggemarnya ketika berbuka mahu pun sahur.Pendek kata, terubuk Sarawak memang amat popular terutama di kalangan pelawat dari Semenanjung, Sabah dan Brunei Darussalam, yang menjadikannya buah tangan wajib apabila berkunjung ke bumi kenyalang ini.Populariti terubuk ini berkait rapat dengan hakikat ikan itu sudah lama pupus dari sungai di Semenanjung tetapi di Sarawak spesies ikan bertulang banyak itu masih boleh diperoleh terutama pada musim terubuk bertelur antara Jun hingga Oktober.

Bekalan terubuk tempatan boleh didapati di Sungai Lupar (Lingga dan Sebuyau dalam Bahagian Sri Aman), selain di Sungai Saribas (Pusa, Beladin dan Maludam di Bahagian Betong) dan Sungai Lassa (Teba’ang dan Daro di Bahagian Mukah).

Bagaimanapun, berbeza dengan mudahnya terubuk itu dibeli, hakikatnya, terubuk tempatan kian terhad dan sukar diperoleh yang disebabkan usaha kerajaan mengawal tangkapan ikan yang kian pupus dengan mengehadkan kegiatan menangkap ikan terubuk. Semua ini demi membolehkan spesies ini membiak.

Biarpun bilangannya terhad, ramai peraih yang masuk ke kawasan berkenaan setiap kali musim terubuk untuk membeli bekalan yang terhad itu secara borong dan mengeksportnya ke luar negara terutama Singapura.Tidak hairanlah harga ikan terubuk tempatan bertelur kini boleh mencecah antara RM36 hingga RM45 sekilogram berbanding sekitar RM28 sekilogram satu ketika dulu. Terubuk masin tempatan atau lebih dikenali sebagai ‘terubuk masin local’ di kalangan pembeli pula dijual pada harga RM18 seekor berbanding RM8 seekor untuk saiz sama bagi ikan terubuk import.

Ramai yang mungkin tidak sedar kebanyakan ikan terubuk masin yang dijual di kawasan Pasar Satok di Kuching itu diimport dari India dan Myanmar dengan jumlah pengusaha yang menjual ikan terubuk kini berjumlah 14 orang, dibantu lebih 100 pekerja.

Pengasas penjualan ikan terubuk masin di Sarawak, Ibrahim Mohd Sahari, 49, dari Jalan Muhibbah, Kuching, berkata mereka terpaksa membeli ikan terubuk yang diimport dari India dan Myanmar daripada pembekal.

“Saya orang pertama menjual ikan terubuk di Kuching pada 1989. Dulu harga sekotak ikan terubuk masin seberat 20 kilogram dijual dengan harga RM75 saja, kini sudah naik sehingga antara RM150 hingga RM250 sekotak mengikut saiz ikan.

“Dengan dibantu 13 pekerja, saya menjual sehingga satu tan metrik atau 50 kotak terubuk sehari, dengan berat setiap kotak 20 kilogram,” katanya sambil menambah ikan kecil yang dipanggil ‘Semperit’ boleh dijual dengan harga empat ekor RM10, tetapi ikan besar yang dipanggil ‘terubuk’ dijual pada harga antara RM10 ke RM18 seekor,” katanya.

Cara memproses terubuk masin cukup mudah dengan mengeluarkan ikan terubuk beku dari kotak dan terus merendam dalam air kira-kira dua minit, sebelum disiang dan dibersihkan. Bagi yang bertelur, telur akan dikeluarkan untuk dijual secara berasingan. Selepas itu, ikan terubuk yang sudah dibersihkan akan diletakkan garam yang diimport dari Thailand, sebelum terus dipamer untuk dijual.

Bagi telur terubuk import ia dijual dengan harga antara RM100 hingga RM200 sekilogram, berbanding telur terubuk tempatan dari Sarawak yang dijual dengan harga RM300 sekilogram.
“Kita hanya menggunakan garam yang diimport dari Thailand kerana ia paling halus dan lembut. Harga garam Thailand ini dulu hanya RM8.50 seguni (mengandungi 25 kilogram garam) berbanding sekarang sudah naik kepada RM16 seguni. Selain kos membeli terubuk sudah naik begitu tinggi, kos lain termasuk garam juga sudah naik, tetapi harga terubuk masin masih kekal sama, sekali gus menyebabkan kami tidak untung banyak,” katanya.

Ibrahim yang juga pemilik Perusahaan U.I.T.M (Usahawan Ikan Terubuk Masin) turut menjadi pembekal tetap terubuk masin kepada Tabung Haji dan agensi yang menawarkan pakej umrah, untuk dibawa oleh jemaah sebagai makanan di Makkah, selain pernah menghantar terubuk masin sehingga ke London.

Beliau turut mengakui, sepanjang Ramadan seperti sekarang, terubuk bakar atau terubuk panggang yang cukup popular di kebanyakan bazar Ramadan di Sarawak juga sebenarnya terdiri daripada terubuk yang dibawa dari Myanmar dan India, bukannya terubuk Sarawak.

Ini kerana pembeli biasanya hanya sanggup membayar antara RM10 ke RM20 untuk seekor terubuk panggang di bazar Ramadan, sedang kos untuk mendapatkan terubuk tempatan terlalu mahal dan lebih daripada itu.

“Rahsianya ialah cara kita memproses ikan itu supaya rasanya sesedap terubuk tempatan. Jika kena ramuan dan caranya seperti untuk panggang kita letakkan garam, kunyit, serai dan minyak serta cara membakarnya juga perlu betul, rasanya pasti seenak terubuk tempatan,” katanya.

Mohd Rus Hassan, 77, yang mengusahakan perniagaan ikan terubuk masin di Pasar Satok sejak lebih 10 tahun lalu pula berkata, terubuk tempatan banyak perbezaannya dengan terubuk import, terutama muncungnya yang panjang dan besar, manakala badannya kecil dan pendek.
“Kalau nak bezakan ikan terubuk masin Sarawak dengan import, tengok sisik dulu. Sisik terubuk Sarawak hidup dan boleh dibuka walaupun sudah diproses menjadi ikan masin, berbanding sisik terubuk import yang mati dan keras. Mulut ikan terubuk Sarawak juga lebih besar berbanding terubuk import dan apa yang lebih penting rasa terubuk Sarawak jauh lebih lemak dan manis berbanding import,” katanya yang menjual purata 3,000 ekor terubuk sehari.
Seorang pekerja di gerai menjual terubuk masin, Putradi Putit, 36, berkata mereka memproses sekitar 16 kotak terubuk setiap hari biasa dan pada Sabtu dan Ahad mereka perlu memproses sehingga 22 kotak ikan terubuk sehari. Setiap kotak mengandungi antara 60 ekor hingga 75 ekor ikan mengikut saiz.

“Kami kena gunakan pisau yang cukup tajam supaya kerja menyiang ikan lebih cepat dapat dilakukan. Kalau pisau cukup tajam kami boleh menyiang sehingga lebih 100 ekor ikan dalam sejam.

“Kebanyakan pelanggan yang membeli ikan terubuk masin pula terdiri daripada penduduk dari Semenanjung yang mahu membawa pulang ikan terubuk sebagai ‘ole-ole’. Kami perlu membungkusnya dengan kemas di dalam kotak supaya dapat dibawa menaiki pesawat,” katanya.
Saiz kepala, bentuk badan bezakan spesies terubuk
PERBEZAAN antara terubuk Sarawak dengan terubuk import ialah terubuk tempatan berkepala besar tetapi pendek manakala ikan import berkepala bulat dan panjang.
Pegawai Perikanan Jabatan Perikanan Malaysia, Johari Tim, berkata keistimewaan terubuk Sarawak lebih berlemak dan telurnya lebih besar.

“Perbezaan juga dapat dilihat daripada segi kesegaran. Terubuk tempatan lebih sedap kerana segar sedangkan terubuk import terpaksa dibekukan terlebih dulu,” katanya.

Pegawai penyelidik di Institut Penyelidikan Perikanan Sarawak pula, Albert Chuan, berkata terubuk import mempunyai bintik hitam di badan tetapi tiada pada terubuk sungai. Katanya, perbezaan terubuk tempatan dan import juga boleh dilihat pada harga.

“Terubuk sungai lebih mahal berbanding terubuk import. Sekali imbas memang sukar mencari perbezaan terubuk sungai dan terubuk import. Orang biasa memang selalu keliru,” katanya.
Ada dua jenis terubuk di Sarawak iaitu terubuk laut atau Tenualosa macrura yang boleh dikenali dengan fizikalnya bermulut kecil, bersaiz pendek dengan bahagian kepala lebih kecil dan badan lebih gemuk.

Terubuk sungai Tenualosa toli mempunyai muncung atau mulut lebih besar dan panjang yang juga dikenali sebagai Terubuk Sarawak di kalangan penduduk negara ini. Terubuk adalah ikan pelagic dalam keluarga Clupeidae. Penentuan jantina ikan terubuk hanya dapat dikenal pasti apabila ia menjangkau usia dua tahun dan bertelur.

Mengikut kajian Jabatan Perikanan Laut Sarawak, Tenualosa Toli mula bertelur dari bulan September hingga Oktober dan berkurangan pada bulan November. Bagaimanapun, ikan terubuk banyak memasuki sungai dari bulan April hingga bulan Oktober.

Musim ikan terubuk bermula agak lambat tetapi pendek iaitu Jun hingga Oktober bagi kawasan Batang Lupar, manakala bagi Batang Lassa pula, musimnya berpanjangan sehingga enam bulan iaitu April hingga November. Faktor ini disebabkan perpindahan terubuk berbeza antara Batang Lupar dan Batang Lassa.

Terubuk jantan boleh mencapai ukuran panjang sehingga 12.8 hingga 34 sentimeter manakala betina ialah dari 14 hingga 46.2 sentimeter dan masing-masing mempunyai purata berat 178.2 gram dan 533.9 gram.

Bagaimanapun, Sarawak berdepan masalah kepupusan ikan terubuk yang meruncing berikutan penangkapan ikan tidak terkawal oleh nelayan tempatan, menyebabkannya tidak sempat sampai tempoh matang untuk menjadi terubuk betina dan bertelur untuk meneruskan pembiakan.

Justeru, usaha Kementerian Pertanian dan Industri Asas Tani untuk membuat kajian ke atas sperma terubuk Sarawak yang kini semakin diancam kepupusan adalah satu berita baik.
Timbalan Menterinya, Datuk Rohani Karim berkata, selepas kejayaan penyelidikan ke atas sperma ikan air tawar seperti kelah di Sungai Pahang dan temoleh di Sungai Perak, kini tumpuan akan diberikan kepada ikan terubuk di Batang Lupar, Sarawak.

Rohani berkata, ketika ini spesies ikan terubuk di negeri ini dikatakan semakin pupus akibat aktiviti penangkapan ikan terubuk yang tidak terkawal dan kaedah tradisional.
————————————————————————————————

PROJEK AYAM KAMPUNG HERBA, ORGANIK & HALAL

Projek perintis ternakan Ayam Kg Herba dimulakan dengan R & D dalam penghasilan dedak dan sistem pengurusan ternakan ayam kg pada awal Januari 2010 oleh sykt.
Projek ini mensasarkan 2 Objektif utama iaitu:


i. Mempelopori penternakan dan pemasaran Ayam Herba & Organik untuk pasaran HALAL di Kelantan dan Malaysia menggunakan aplikas Bioteknologi terkini.


ii.Mempromosikan produk keluaran daging ayam alternatif yang HALAL, TOYYIBAH & baik untuk KESIHATAN.Alhamdulillah bulan ini ia mula dikembangkan secara berperingkat bermula dengan 5,000 ekor/pusingan hinggalah kepada sasaran 30,000 ekor/puisngan dengan kapasiti optimum reban mampu menampung 120,000ekor dlm satu2 masa. Produk yang dihasilkan dalam bentuk sejukbeku bagi memudahkan penghataran


Mohon jasa baik shbt2 dan pengunjung blog ini untuk doakan projek ini berjaya dengan baik,terutamanya sebagai alternatif kepada produk2 ayam yg ada dipasaran sekarang dan sebagai fardhu kifayah kepada semua umat Islam di Malaysia. Amin :)


p/s; kepada rakan2 yang berminat untuk menjadi PENGEDAR dan PEMBORONG di Daerah & Negeri masing2 bolehlah menghubungi saya mulai hari ini. Iklan melalui radio (Kelantan.FM, IKIM.FM) dan akhbar cetak & elektronik akan dimulakan secara berperingkat2.


Fasa pertama dalam Kelantan, fasa kedua untuk edisi Nasional, dijangkakan pada bulan Oktober dan November :)

Harga Pemborong: RM10.90/ekor - dengan pembelian 100ekor ke atas.


Harga Pengedar: RM11.90/ekor - dengan pembelian 10 ekor ke atas


Harga Pengguna: RM12.90/ekor :)


Projek ini telah mendapat pengiktirafan sijil HALAL daripada JAKIM, disertakan dengan pembungkusan menarik dan penghantaran ke Seluruh Negara mulai Oktober 2010. Sesiapa yang berminat untuk menjadi Pemborong, Pengedar dan Pembeli boleh menghubungi saya segera. Syam - 013-2199643

http://usahawantani-kelantan.blogspot.com/

Wednesday, September 1, 2010

Cara Membuat Telur Itik Masin

Setiap kali ke gerai ataupun restoran makanan, saya selalu melihat telur masin yang dibelah dua, dan adakala saya mengambilnya untuk dimakan bersama dengan nasi, dan adakalnya saya hanya memandangnya sambil menangguhkan hasrat di hati. hehehe.. Secara tidak langsung, hari ini saya menemui maklumat mengenai cara membuat telur itik masin. Bukankah mudah kalau ia dibuat sendiri, dan boleh juga dibuat untuk menambah sumber pendapatan? Em, rezeki Allah terbentang luas di mana-mana. Selamat membaca semua…

Pendahuluan

Telur masin adalah telur yang diawet yang disediakan dari telur itik. Telur masin merupakan makanan yang berkhasiat. Proses pengawetan telur masin adalah satu proses yang mudah, ringkas dan menguntungkan. Proses yang dilakukan tidak melibatkan peralatan yang mahal. Memandangkan kandungan zat pemakanannya yang tinggi, telur masin amatlah sesuai dijadikan sumber makanan protin.

Bahan Mentah

Bahan yang diperlukan untuk mengeluarkan 2500, 500 atau 100 biji telur masin:-

BAHAN 2500 biji 500 biji 100 biji
Telur Itik (biji) 2500 500 100
Garam Halus (kg) 18.0 3.6 0.72
Tanah Liat kering (tanah warna kuning) (kg) 22.5 4.5 0.70
Air (liter) 15 5.0 0.60
Sekam Padi yang dibakar hitam (kg) 6.25 1.25 0.25

Cara memproses

Telur itik dipilih dari jenis bermutu tinggi. Telur yang mempunyai kuning telur yang kemerah-merahan adalah lebih sesuai kerana ia akan menghasilkan telur yang bermutu tinggi.

  • Telur dibasuh untuk membersihkan segala kotoran yang melekat pada kulitnya.
  • Tanah liat dikeringkan, ditumbuk halus dan diayak untuk memudahkan penyediaan perekat (paste).
  • Perekat disediakan dengan membancuh tanah liat, garam halus dan air di dalam bekas sehingga sebati.
  • Telur dicelup ke dalam perekat agar satu lapisan perekat menyaluti telur tersebut.
  • Telur tersebut kemudiannya digolekkan di atas sekam padi bakar (hitam) sehingga keseluruhan telur tadi disaluti sekam padi dan lapisan asal (perekat) tidak tanggal.
  • Telur dimasukkan ke dalam kotak kayu dan disimpan selama 25 – 30 hari sebelum dijual.

Sumber:http://www.jphpk.gov.my

Pelan Pemasaran Komoditi Halia

halia

PENGENALAN

Halia dikategorikan sebagai sayuran umbisi .Ia juga merupakan tanaman herba atau rempah.Tanaman halia dikatakan berasal dari Asia Tenggara telah lama di kenali di Asia dan kini di seluruh dunia.Halia digunakan sebagai bahan perasa dalam pelbagai masakan.Halia boleh di proses untuk pengeluaran minyak dan hasil ekstrak oleoresin.Minyak halia boleh di jadikan bahan perasa minuman buah-buahan,confectionary kosmetik dan ubatan. Oleoresin pula boleh digunakan untuk bahan perasa minuman tetapi lebih untuk ubatan. Ubat-ubatan dari halia boleh mengawal penyakit antaranya demam,batuk,sesak dada,pleurisy,cramps,migrane, sengugut,sakit kepala,sakit gigi,sakit tulang,sakit perut dan sakit gastrointestinal. Halia ditanaman dikawasan tropika meliputi tanah ketinggian 1500 meter dari aras laut dan boleh hidup dalam berbagai keadan cuaca dan jenis tanah.

ANALISA SITUASI

2.1 Analisa Produk

2.1.1 Jenis Dan Varieti
Halia atau nama botaninya, Zingiber officinale Roscoe dari famili Zingiberaceae digunakan sebagai rempah perasa dan ubatan. Ciri-ciri rizom halia seperti kandungan serabut, hasil dan pungency (pedas) berbeza dari varieti ke varieti.

Terdapat dua jenis di Malaysia, iaitu :
- Jenis Bentong rizom besar dan (Halia Bkt. Tinggi) berwarna pucat keputihan
- Jenis Tanjung Sepat rizomnya berbentuk (Halia Indonesia) panjang dan berwarna kekuningan muda

2.1.2 Benih
Halia ditanam daripada keratan rizom berumur 9 bulan. Pada masa kini benih hanya boleh diperolehi daripada pengusahapengusaha halia di mana sebahagian daripada halia yang dituai disimpan untuk dijadikan benih. Benih/rizom halia pada masa kini dijual pada harga RM4.00/kg. Sebanyak 1,800 kg rizom segar adalah diperlukan untuk seluas 1 hektar.

2.1.3 Zon Pengeluaran
Di Malaysia, negeri-negeri pengeluar utama halia ialah Sabah, Sarawak, Pahang, Selangor dan Johor. Di Negeri Pahang, kawasan utama pengeluaran halia ialah di Bentong. Di Negeri Sabah, kawasannya ialah di Keningau dan Tambunan. Keluasan tanaman di semua negeri adalah seperti tercatat di bawah :

Jadual 1 : Keluasan tanaman halia mengikut negeri (1996 – 2000)

NEGERI

KELUASAN (HEKTAR) MENGIKUT TAHUN

1996

1997

1998

1999

2000

Johor

27.0

53.0

88.0

71.0

55.2

Kedah

0.4

-

-

-

-

Kelantan

20.0

13.0

17.0

21.0

15.7

Melaka

-

-

-

-

-

N.Sembilan

1.0

2.0

2.0

1.0

0.3

Pahang

47.0

80.0

115.0

117.0

91.8

P.Pinang

-

-

-

-

0.6

Perak

-

1.0

-

-

6.0

Perlis

-

-

-

1.0

-

Selangor

448.0

337.0

94.0

72.0

72.0

Terengganu

-

-

-

-

2.0

Sumber : Jabatan Pertanian
• Tiada Maklumat

Pada tahun 2000, jumlah pengeluaran halia dari kawasan yangmengeluarkan hasil (225.7 hektar) di Semenanjung Malaysia dilaporkan sebanyak 1,859.3 metrik tan.

2.1.4 Keperluan Tanah Dan Cuaca
Halia memerlukan taburan hujan sebanyak 200 – 260 cm setahun dan cuaca yang panas. Halia sesuai ditanam dipelbagai jenis tanah yang mempunyai saliran baik, kaya dengan bahan organik serta gembur dan peroi, dan tidak menyekat tumbesaran rizom. Halia hidup subur dalam keadaan pH 5.0 – 6.5. Tanah yang paling sesuai ialah yang bertekstur lom dari segi membekal nutrien, air dan udara kepada akar tanaman. Ia juga boleh ditanam di tanah gambut setelah ianya diperbaiki dengan sistem pengaliran yang efisien, pengapuran sehingga pH tanah melebehi 5.0, dan pemberian baja makro dan mikro yang mencukupi. Halia juga sesuai di tanam dikawasan rendah di mana suhunya 22-34°C dan mempunyai purata taburan hujan sebanyak 2,000-2,500 mm/tahun.Masa yang paling sesuai untuk menanam ialah pada bulan Februari hingga Mac, iaitu pada musim permulaan hujan.

2.1.5 Amalan Kultur

Tanah perlu dibajak dan digembur sebelum menyediakan batas berukuran 70 cm lebar dan 25 – 30 cm tinggi. Bagi tanah yang berasid, kapur (GML) sebanyak 2.5 tan/ha ditabur semasa tanah dibajak. Bagi tanah mineral, baja organan sebanyak 4 tan/ha digaulkan dengan tanah di atas batas sebelum menanam.

Halia ditanam daripada keratan rizom berumur 9 bulan. Rizom disimpan di tempat redup selama 2 minggu untuk menggalakkan percambahan tunas. Selepas itu, rizom dikerat 5 cm panjang (sekurang-kurannya 2 mata tunas). Sebayak 25 – 30 keratan boleh didapati daripada 1 kg rizom. Sebanyak 1800 kg rizom segar adalah diperlukan untuk seluas 1 hektar.

Keratan-keratan rizom perlu direndam dalam larutan racun kulat seperti Benomyl, dan dibiarkan kering sebelum ditanam. Selepas ditanam, naungan perlu disediakan untuk pucuk-pucuk baru yang muncul dalam masa 2 –4 minggu selepas menanam. Jarak tanaman yang disyorkan ialah 45 cm di anatara baris dan 30 cm di antara pokok. Kepadatan pokok 45,000 sehektar.

Baja kapur sebanyak 2.5 tan/ha ditabur semasa membajak tanah, sekiranya pH kurang dari 5.Kadar pembajaan yang disyorkan adalah seperti berikut :

Jadual 2 : Jadual pembajaan tanaman halia

PUSINGAN

MASA

JENIS BAJA

KADAR/HA

1

Sebelum menanam

Baja Organan

4 tan

2

4 minggu

NPK 12:12:17:2

300 kg

3

8 minggu

NPK 12:12:17:2

300 kg

4

12 minggu

NPK 12:12:17:2

300 kg

5

16 minggu

NPK 12:12:17:2

300 kg

6

20 minggu

NPK 12:12:17:2

300 kg

Sumber : Jabatan Pertanian.

Untuk mengelakkan pertumbuhan rumpai, racun herba pracambah seperti Alachlor atau Atrazine disembur pada kadar 4 lit/ha ke atas batas, sebaik sahaja keratan-keratan halia ditanam. Selepas itu,dua pusingan merumput secara manual di atas batas diperlukan. Rumpai di sekeliling batas boleh dikawal dengan penyemburan racun herba seperti Glufosinate ammonium. Penimbunan tanah di pangkal pokok perlu dilakukan semasa merumput, supaya rizomrizom tidak terdedah Serangga dan penyakit utama yang menyerang tanaman halia ialah :

Jadual 3 : Pengurusan serangga dan penyakit

JENIS SERANGGA/PENYAKIT

KAWALAN

1. Ulat Pengorek

(Udaspes folus)

Sembur racun Permethrin

2. Layu Bakteria

(Pseudomonas solanacearum

Musnahkan pokok yang berpenyakit

Gunakan benih yang sihat

Tentukan saliran yang baik

3. Bintik Daun

(Phyllosticta zaingibera)

Sembur racun kulat Benomyl

Sumber : Jabatan Pertanian

Pada masa sekarang, pengeluaran halia masih dihasilkan secara konvensional oleh pengusaha-pengusaha. Walau bagaimanapun, pengeluaran sayur-sayuran termasuk halia adalah digalakkan supaya diusahakan secara organik dalam tempoh Rancangan Malaysia Kelapan.

Untuk mendapatkan journal penuh, sila download disini:

pelan-pasaran-komoditi-halia

Ternakan Ostrich Pedaging

Ringkasan:

Penternakan Ostrich telah menarik banyak minat dikalangan penduduk Malaysia, bukankerana ketampanan rupa dan pergerakan badan yang menarik tetapi kerana nilai komersial yang tinggi. Selain daripada daging, kulit ostich juga dapat memberi hasil yang lumayan.

Walaupun terdapat beberapa ladang ostrich di negara ini ternakan ini tidak diusahakansecara besar-besaran biasanya dilaksanakan secara intergrasi dengan aktiviti pertanian yang lain. Ostrich adalah ternakan yang dapat mengadaptasikan diri kepada keadaan sekeliling dengan baik. Tidak memerlukan kawasan yang luas – 1 ekar dapat menampung sebanyak 50 – 55 ekor

atau 800 kaki persegi untuk seekor, dipelihara sehingga umur 12 bulan sebelum disembeleh dan kadar kematian kurang dari 3%. dibawah ini dinyatakan hasil yang diperolehi dari seekor

ostrich pedaging:-

Berat hidup : 100 kg.
Daging pejal (tanpa tulang): 30 kg.
Tengkuk: 2 kg.
Tulang rusuk: 4 kg.
Mempedal: 1 biji
Kulit : 12 kaki persegi.
Kulit kaki: 1 pasang.
Daging ostrich adalah daging eksotik, berwarna merah dan mengandugi kolestrol yang rendah ( 83 mg./100gm ).

Objektif:

Menghasilkan daging ostrich (Volace) sebagai daging alternatif terutamanya kepada mereka yang mengambil berat tentang kesihatan memandangkan daging ini mengandungi kolestrol yang rendah. Disamping itu kulit juga dapat memberi pendapatan sampingan.

PELAKSANAAN PROJEK:

Tapak projek:

1. Kawasan rata dan berpasir.
2. Jauh dari laluan kenderaan.
3. Tiada pencemaran air dan udara.

Keluasan Tapak Projek:

1. Kawasan fodder – 1 ekar.
2. Kawasan pemeliharaan – 1.5 ekar

Tenaga Pekerja:

1. Seorang Pengurus.
2. Seorang pekerja sepenuh masa
3. 2 orang pekerja sambilan untuk kerja-kerja penyembelahan dan upah dibayar mengikut jumlah ternakan yang disembeleh sahaja.

Stok Pedaging:

1. Sebanyak 100 ekor ostrich pedaging dipelihara dalam setahun.
2. Setiap kemasukkan adalah sebanyak 20 ekor berumur 3 bulan dan dibahagi kepada 5
kumpulan supaya bekalan daging tidak terputus.
3. Jangan sesekali mengambil anak dibawah umur 2 bulan kerana sekiranya tiada pengelaman didalam bidang pengurusan anak, kadar kematian mampu mencapai
sehingga 90 % – 100 %.
4. Penyembelehan ternakan ini dilakukan apabila mencapai berat badan diantara 90 kg – 100 kg dan berumur diantara 10 bulan – 12 bulan. Tidak ekonomikal jika dipelihara melebehi 12 bulan.

Pengurusan Ternakan:

1. Dipelihara secara intensif mengikut umur didalam padok berpagar.
2. Diberi makan dua kali sehari.
3. Air minum adlib.
4. Elak sebarang gangguan untuk mengurangkan tekanan (stress).

Keperluan asas:

1. 6 buah padok berukuran 80’ x 100’.
2. Rumah berteduh berukuran 15’ x 25’.
3. Bangunan pejabat/pemerosessan rumput/stor dan rumah sembeleh.
4. Kenderaan dan mesin pemotong rumput.
5. Tempat makan.
6. Tempat minuman.
7. Peralatan untuk pembungkusan daging.

Kos Projek:

Bil. Perkara Jumlah Kos (RM)

A KOS TETAP:

1. Pembangunan Tanah dan Pastura:
Merata dan membersih kawasan padok seluas 1.5 ekar @ RM 250.00 sehari.

2. Menyedia tapak fodder @ RM 300.00/ ekar
3. Membekal keratan napier @ .20 sen sebatang.
4. Upah penanaman @ RM 150.00 9,600 btg. 1 ekar 1,920.00 150.00 Jumlah:2,870.00
5. Kos Pemagaran:

1. Tiang G.I.pipe 2″ o x 8’ klas C (Vertical) @ RM 40.00
2. Tiang G.I.pipe 2 o x 6’ klas B (Horizontal) @ RM 30.00
3. Tiang G.I. pipe 1.5’ o x 8’ klas B (Intermediate) @RM15/
4. Pintu besi 4’ x 8’ @ RM 320.00
5. Pagar cyclone @ RM 850.00
6. Upah menanam tiang @ RM 50.00
7. Kos tarik pagar @ RM 2.00 54 btg.

Unit Ostrich,
Ladang Infoternak,
Jabatan Perkhidmatan Haiwan Negeri Perak,
Sungai Siput (U),
Perak.